jump to navigation

Perjalanan Malam Hari Jkt-Bgr September 3, 2009

Posted by pahlawanmuda in 1.
1 comment so far

Baru tadi malam aku melakukan perjalanan, melihat, merasakan, menerawang langit. Bahwa hidup adalah kesempatan kita untuk melakukan banyak hal. Terlontar sebuah pertanyaan, untuk apa manusia hidup ? untuk apa mereka bekerja ? untuk apa mereka beraktifitas sampai larut malam ? (seperti halnya diriku,,,hehehe). Dan pasti jawaban dari mereka sangat banyak dan berbeda, semua memiliki kesamaan dalam jawaban yaitu untuk hidup. Lalu pertanyaan selanjutnya yang mengusik, kenapa kita harus hidup ? pertanyaan unik yang mungkin semua orang juga pernah mempertanyakannya pada dirinya sendiri. Untuk apa kita hidup? Hidup ? apa itu hidup ? banyak uang ? istri cantik ? rumah besar ? kendaraan mewah ? atau apa ? sampai sekarang masih menjadi banyak pertanyaan untuk semua orang…

Perjalanan tadi malam membuat aku mengingatkanku kembali bahwa visi hidupku adalah ingin menjadi manusia yang dicintai langit dan diterima bumi sehingga aku bisa bertemu dengan Rabb ku… Sepanjang perjalanan dari kantor, aku membuka penutup kepalaku yang selalu aku pakai setiap melakukan perjalanan dengan si BaDi (tahu singkatannya? Hehehe BaDi adalah Bajaj nya redy,,,singkatan yang aku dapatkan dari adik kelasku waktu kuliah). Malam itu angin menempa wajahku selama perjalanan, terasa begitu berbeda memang, dingin, tapi terasa sentuhan lembut angin malam,, malam itu aku dan BaDi meluncur membelah bogor menuju bogor barat, sepanjang perjalanan, aku selalu memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Hidup? Malam itu aku mendapat kesimpulan bahwa hidupku adalah untuk mati, bahwa hidupku hanya sekali maka harus berarti berarti untuk aku dan semua orang di sekelilingku. Bukan kekayaan atau kemiskinan tapi bagaimana kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sempat terlintas dalam perjalanan itu, keinginanku (cta-cita) mati ditembak sama musuh yang ga suka sama islam waktu berpidato di tengah orang2 banyak,,,hehehe mimpi yang aneh ya,,,tapi dulu dan bahkan sampai sekarang aku selalu membayangkan nikmatnya tubuhku ditembus oleh timah panas itu…hah,,,,nikmat rasanya jiwa ini langsung bertemu dengan rabb pencipta alam….

Malam tadi aku mendapatkan pelajaran berharga tentang kenapa kita harus hidup,,,karena kita harus mati….tapi aku ingin mati sesuai dengan mimpiku….

Banyak orang yang menginginkan mereka kaya, banyak uang dsb. (mungkin uga banyak istri,,,hehehehe). Tapi tahukah, aku selalu berdoa seperti ini untuk yang satu itu,,,” ya Allah, jika memang kekayaan bisa membawaku lebih dekat kepadaMu seperti halnya Raja Sulaiman, maka anugerahkanlah sedikit saja dari semua kekayaan Raja sulaiman yang agung untukku, tapi jika harta itu malah membuat aku kufur dan lebih jauh dariMu,,,aku lebih suka saat ini, maka berikanlah keputusan yang terbaik untukku, dan ampunilah dosaku”

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA (dari Kembalikan Indonesia Kepadaku , TAUFIQ ISMAIL) Darmaga, 22 September1979 Januari 6, 2009

Posted by pahlawanmuda in Goresan Rekan Pahlawan.
10 comments

I

Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

II

Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Orang-orang menggali tali air irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III

Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilo sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani mengaji
Ayat-ayat alam
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV

Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dikais-kaisnya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-mayur yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital  Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ======
Catatan:

Bagian IV syair puisi ini dibacakan oleh sahabatnya, yakni Bpk Taufiq Ismail,

pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979,

sesudah Antua M. Kasim Arifin (lahir Langsa-Aceh Timur, 18 April 1938) menerima gelar Insinyur Pertanian.

Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang (sejak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata thn 1964

untuk memperkenalkan program Panca Usaha Tani) tapi ternyata menanam akar di Waimital – Maluku,

sehingga enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion.

Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor.

Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik.

Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja,

kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.

Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerubunginya selalu dan mengaguminya

sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan.

Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda.

Kemudian sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya (pensiun tahun 1994)

Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya.

Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa.

Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya..

Bagi saya, Kasim Arifin adalah Pahlawan Pertanian Indonesia, Selamat Jalan wahai Pahlawan