jump to navigation

Pertaruhan Keabadian September 22, 2007

Posted by pahlawanmuda in Goresan Rekan Pahlawan.
trackback

Oleh : Ust. Anis Matta

Jaminan keabadian syariat Islam ternyata harus dibayar dengan harga yang tidak semurah yang kita bayangkan. Jaminan keabadian ini harus dipertaruhkan sepanjang zaman; melawan berbagai tantangan dan fitnah yang tidak pernah selesai.

Pada 13 tahun pertama masa da’wah di Makkah, setidaknya ada empat tantangan dan fitnah yang dihadapi Rasulullah saw. Pertama, syubhat yang disebarkan para intelektual musyrikin Quraisy: sebagiannya terkait dengan pribadi sang Rasul pembawa risalah yang dituduh gila, atau penyair dan lainnya, sebagiannya lagi terkait dengan risalah itu sendiri, hingga suatu saat Allah menantang mereka untuk membuat Al-Qur’an yang lain.

Kedua, tawaran kompromi politik. Sebagiannya berupa posisi kepemimpinan bagi Rasulullah Saw yang harus dibayar dengan menghentikan da’wah, sebagiannya berupa kompromi dengan cara kaum musyrikin menyembah Allah setahun dan kaum Muslimin menyembah tuhan-tuhan kaum musyrikin setahun.

Ketiga, teror mental dan fisik, baik kepada Rasulullah saw secara pribadi maupun kepada sahabat-sahabat beliau yang berasal dari kabilah-kabilah yang lemah.

Keempat, embargo ekonomi yang berlangsung selama tiga tahun, dari tahun ketujuh hingga tahun kesepuluh kenabian. Begitu beratnya dampak embargo ini hingga banyak sahabat Rasulullah saw yang terpaksa memakan daun-daun pohon.

Pengulangan sejarah

Fitnah terhadap Islam dan syariatnya -sepanjang sejarah Islam- tampaknya mengalami pengulangan-pengulangan dengan struktur yang sama; pada mulanya ada syubhat yang bertujuan menggoyang kepercayaan kaum Muslimin, lalu ada tawaran kompromi politik yang bertujuan mengalihkan fokus penerapan syariat.

Jika kedua cara yang relatif demokratis ini gagal, maka fitnah itu dikembangkan dengan menggunakan bahasa kekerasan; teror mental dan fisik, yang dilanjutkan dengan menghabisi sumber daya perekonomian kaum Muslimin.

Lihatlah, misalnya, bagaimana berbagai macam syubhat tentang Islam bertebaran dalam dunia pemikiran Islam moderen, sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Gerakan orientalisme telah bekerja keras menyebarkan syubhat-syubhat itu, sama kerasnya dengan kerja para imperialis mendidik para pemikir Muslim yang menelan mentah-mentah syubhat-syubhat tersebut.

Ambillah contoh gagasan tentang Islam ritual. Para orientalis menyebarkan gagasan ini untuk menutupi fakta tentang Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Pada suatu masa di awal abad ke-20, beberapa orang intelektual Mesir dikirim ke Perancis untuk belajar Islam. Salah seorang di antara mereka, Dr Ali Abdurraziq, kemudian kembali dengan membawa gagasan tentang “Islam tanpa politik”.

Snouck Hourgronje datang ke Indonesia meneguhkan gagasan tersebut dan berhasil memperpanjang masa penjajahan Belanda di negeri ini. Sebabnya? Kaum Muslimin di sini tidak menganggap politik sebagai bagian dari Islam. Pada tahun 70-an awal, gagasan yang sama dengan latar belakang sosial politik yang berbeda muncul ke permukaan pemikiran Islam: “Islam Yes, Partai Islam No”. Tokohnya kita semua sudah tahu. Sekarang, kalangan Islam Liberal membawa gagasan yang sama: jangan bawa syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Tokohnya juga kita kenal.

Tapi syubhat-syubhat ini sudah relatif selesai, dan tidak lagi efektif mencegah laju kebangkitan Islam. Para penggagas kebangkitan Islam sejak Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthub, hingga Iqbal, Al-Maududi, Al-Nadawi dan Natsir di luar jazirah Arab, telah berhasil membangun landasan pemikiran Islam yang kokoh. Sejak tahun 70-an hingga saat ini laju kebangkitan Islam telah berkembang dari sekedar gerakan pemikiran menjadi gerakan sosial politik yang merata di seluruh di dunia Islam.

Lihatlah apa yang terjadi di Aljazair, Yaman, Iran, Turki, Indonesia, Pakistan, Sudan dan lainnya. Kekerasan telah menjadi bahasa umum-yang digunakan berbagai rezim boneka -di mana Islam direpresentasikan dalam panggung politik. Di Aljazair misalnya, FIS yang pernah memenangkan pemilu di awal 90-an, sekarang tinggal sebuah nama yang ‘pernah ada’ dalam sejarah politik negeri itu.

Tapi itu bahkan tidak hanya dilakukan oleh rezim penguasa lokal. Kekuatan imperialis global di bawah dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat, terlibat sangat jauh mendukung rezim penguasa lokal. Begitu sebuah harakah Islam berhasil menegara dan berkuasa, rezim baru itu akan segera diisolasi.

Lihatlah Sudan. Begitu kudeta putih yang dipimpin Umar Al-Basyir berhasil menguasai Sudan tahun 1987, dan mulai mencanangkan penerapan syariat Islam, negeri Muslim di perbatasan Afrika-Arab itu segera masuk dalam lingkaran setan embargo ekonomi hingga saat ini.


Banjir tak lagi terbendung

Tapi seperti banjir, gelombang kembali kepada Islam, baik di jalur sosial budaya maupun di jalur ekonomi politik, tak lagi dapat dibendung. Seperti syubhat-syubhat pemikiran para orientalis bersama para muridnya di negeri-negeri Islam yang tidak lagi efektif sejak dekade 70-an, maka cara-cara kekerasan dalam bentuk teror mental dan fisik atau embargo ekonomi, juga tidak lagi efektif sejak dekade 90-an. Runtuhnya Uni Soviet awal dekade 90-an bukan hanya mengangkat AS ke puncak dominasi dunia, tapi juga menyisakan berkah bagi dunia Islam; yakni runtuhnya tembok tirani yang memberi jalan bagi proses demokratisasi di negeri-negeri Muslim yang didominasi para tiran.

Lebih dari itu, peta aliansi strategis antar berbagai kekuatan global berubah pada basisnya; dari orientasi ideologi ke orientasi kepentingan ekonomi. Karena potensi-potensi yang dimilikinya, baik potensi sumber daya alam, maupun potensi pasarnya, maka perkembangan ini akan memberikan posisi tawar yang baik bagi dunia Islam.

Fakta ini melahirkan fakta lain; dunia kita makin sulit dikontrol oleh hanya satu tangan. Kita belajar satu hal dari rentetan peristiwa pemboman WTC dan Pentagon 11 September 2001, hingga demonstrasi 10 juta orang di seluruh dunia 14 Februari 2003 lalu menentang rencana serangan AS-Inggris ke Irak; bahwa Amerika tak lagi seberwibawa dulu, bahwa Amerika bukan lagi mitos yang menakutkan, bahwa Amerika bukan lagi simbol peradaban tapi simbol kebiadaban.

Retaknya koalisi Barat, runtuhnya pamor Amerika, dan rusaknya citra peradaban mereka menjadi kebiadaban, akan mempercepat laju trend “kembali ke Islam”; karena di sini kita -dan dunia- menemukan identitas yang solid untuk melakukan perlawanan.

Faktor-faktor eksternal ini, khususnya bila Amerika benar-benar menyerang Irak, akan mendorong peningkatan solidaritas dunia Islam bersama bagian dunia lain yang anti-Amerika, memperlihatkan secara kasat mata kebiadaban Amerika serta meningkatkan semangat anti-Amerika di seluruh dunia.

Secara internal, kondisi-kondisi global ini akan mempercepat proses pematangan gerakan-gerakan Islam, dan mengantar mereka ke jalur cepat menjadi negara. Kenapa? Karena rezim-rezim pro Amerika di dunia Islam akan kehilangan legitimasi di mata rakyat, dan pada waktu yang sama, menjadikan kekuatan Islam sebagai alternatif perlawanan. Untuk tahapan ini, kenyataan ini menguntungkan gerakan Islam.

Jalan masuk menuju kemenangan besar Islam telah dimulai dari sini; dari sebuah dunia yang semakin tidak terkontrol, dari runtuhnya kepemimpinan Amerika atas dunia, dari kekacauan global dunia tanpa kutub, dari keserakahan tak terbatas yang melahirkan pertarungan atas sumber-sumber daya ekonomi. Lebih dari itu semua; ada janji Allah untuk mengabadikan dan memenangkan agama ini.

Jangan hiraukan agenda kecil

Dalam kerangka itulah kaum Muslimin, khususnya para pemimpin dan pemikirnya, harus memfokuskan perhatiannya pada agenda-agenda besarnya; membangun aliansi besar ummat Islam, membangun pondasi sosial-politik bagi kehidupan kenegaraan yang kokoh, peningkatan kemampuan mobilisasi massa, pengembangan kapasitas pengendalian politik melalui berbagai jalur parlementer-ekstraparlementer, jalur lambat pemilu atau jalur cepat people power, pematangan agenda-agenda aksi di lapangan dan lainnya.

Kita harus terbiasa bekerja dalam agenda-agenda besar itu, dan terbiasa juga mengabaikan agenda-agenda kecil seperti menjawab ocehan kalangan Islam Liberal, membela diri dari tuduhan sebagai teroris, dan agenda-agenda sejenis ini yang kontra-produktif.

 

Komentar»

1. Kader PKS - Menghimpun potensi kader dan ummat - September 22, 2007

[…] Pertaruhan Keabadian […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: