jump to navigation

Kepemimpinan Muda Berbasis Nasionalis-Spiritualis, Siap Memimpin Indonesia Juli 24, 2008

Posted by pahlawanmuda in Tinta Emas Pahlawan.
trackback

Oleh : Redy Hendra Gunawan (Ketua BEM FATETA IPB 2005-2006, Aktivis Forum Indonesia Muda)

Proyeksi kaum muda dalam kancah kepemimpinan nasional mulai diperhitungkan oleh elit-elit politik tua. Banyak kaum muda yang bergerak di Partai Politik, Ormas, OKP dan LSM mulai di lirik oleh para politisi tua untuk mengisi panggung politik demokrasi di Negeri ini. Kemenangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat yang mengalahkan para politisi dan birokrat yang sudah berumur (tua) menjadi gelombang opini besar bahwa kaum muda Indonesia bias memimpin negeri seribu mimpi dan masalah ini. Ditambah lagi kemenangan Barrack Obama atas Hillary Clinton yang tentunya mewakili kaum muda menjadikan tekad kaum muda Indonesia semakin bulat. Bahwa negeri ini saatnya di pimpin oleh kaum muda yang bersih dari catatan buruk sejarah dan memiliki visi jauh menyongsong cita-cita bangsa. Kondisi Kaum Muda Indonesia Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum muda Indonesai dengan berbagai pemikiran dan ideologinya mereka bergerak. Akan tetapi, penulis sangat yakin bahwa walaupun mereka memiliki ideology dan cara perjuangan berbeda, mereka masih memiliki cita-cita yang sama dalam memperbaiki bangsa ini. Kondisi kaum muda yang saat ini di sekat oleh berbagai organisasi yang memiliki kepentingan membuat kaum muda seakan terpecah. Bangsa ini memerlukan para kaum muda yang tentunya memiliki integritas moral yang baik. Karena itulah yang saat ini hilang dari para pemimpin bangsa ini. Integritas moral yang ditunjukkan oleh para politisi muda juga saat ini tidak begitu menggembirakan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya politisi muda miskin pengalaman terjerat kasus KKN, asusila dan lain sebagainya. Lalu pertanyaannya apakah dengan kondisi seperti ini dapatkah kaum muda Indonesia memimpin bangsa ini ? Membuat Taman Indonesia semerbak dengan wewangian bunga nan indah. Itulah pertanyaan besar kita semua.

Harapan itu muncul dari Generasi Nasionalis-Spiritualis

Jika kita perhatikan secara seksama dan objektif, ternyata masih ada banyak kaum muda saat ini yang sangat bertolak belakang dengan kondisi rusaknya mental para kaum muda. Mereka menempa diri di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan karang taruna di negeri ini dengan landasan ideology yang kuat. Mereka rela meninggalkan masa mudanya untuk dapat memikirkan apa yang terjadi di alam ini untuk kemaslahatan ummat, untuk bisa turun di aspal jalanan tanpa pragmatism attitude yang melunturkan idealisme dan untuk dapat memikirkan orang lain di sekitarnya. Mereka lebih mencintai masyarakatnya dibanding dirinya sendiri. Dan mereka dilahirkan oleh kondisi kritis yang ada di lingkungan mereka masing-masing. Seperti halnya yang di katakan oleh pemikir Mesir abad ini, bahwa generasi (kaum muda) yang lahir dalam lingkungan yang penuh dengan krisis akan lebih bisa bertahan dan memiliki semangat perubahan yang lebih tinggi dibandingkan para generasi (kaum muda) yang lahir pada lingkungan yang penuh dengan kemudahan tanpa sedikitpun krisis menimpanya. Generasi Emas ini memiliki keimanan (ideology), semangat, dan keikhlasan dalam memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Kontribusi inilah yang sering disebut oleh para pengamat sebagai jiwa nasionalis murni tanpa kepentingan. Mereka lahir dari Mesjid-mesjid kampus, kajian-kajian keagamaan, meja-meja diskursus kontruktif dan komunitas-komunitas profesi berbasis spiritual. Dari sanalah sebuah generasi yang menonjolkan sisi spiritual sebagai kekuatan nurani dalam menghadapi tempaan arus globalisasi. Generasi yang memiliki imunitas moral atau integritas moral yang tinggi inilah yang saat ini menjadi sebuah fenomena baru kebangkitan kaum muda. Bahwa bangsa ini dengan segala carut marut krisis multidimensi di segala bidang hanya bisa di selesaikan dengan terlebih mementingkan perbaikan moral para kaum mudanya. Dengan menanggalkan aspek sektarian, ternyata berdasarkan kajian ilmiah, bahwa benar sisi spiritual dapat mengembalikan khitah kaum muda sebagaimana mestinya seperti 79 tahun yang lalu saat sumpah kaum muda diikrarkan oleh para kaum muda Indonesia. Melalui sisi spiritual inilah Generasi Emas itu ternyata bisa dilahirkan, karena pemimpin pahlawan hanya bisa dilahirkan dari momentum kepahlawanan. Seiring dengan munculnya rasa fesimisme terhadap kebangkitan kaum muda, ternyata masih ada Generasi Emas itu, Generasi yang siap memimpin dan menyelesaikan benang kusut bangsa ini. Generasi M. Natsir dan J.K Simon adalah salah satu generasi spiritual terbaik bangsa ini. Akan tetapi mereka memiliki jiwa nasionalisme murni yang mencoba menghilangkan sekat perbedaan agama. Mereka bisa memimpin pada masa orde lama dan pada saat awal kemerdekaan bangsa ini. Mereka sadar akan adanya nilai batas antara kebenaran dan dan ketidakbenaran. Nilai tersebut hanya bisa munculkan jikalau sisi nurani hatinya suci. Kesucian hati hanya dapat dimunculkan dengan mengaktifkan god spot dalam diri. Seorang Harun Al Rasyid –raja teragung dan rajanya para khalifah- pada masa kejayaan islam telah bisa menorehkan tinta emas kepemimpinan kaum muda, dia bisa mengejewantahkan nilai-nilai spiritual ke ruang-ruang publik. Nilai-nilai tuhan yang suci menyebar ke seluruh sisi gelap kehidupan manusia dan akhirnya rakyat Harun Al Rasyid dapat hidup dalam kesejahteraan, jauh dari ketidakadilan dan tentunya rahmat Tuhan senantiasa menaungi.

Mereka siap memimpin Bangsa ini

Generasi muda yang telah rela menanggalkan masa mudanya itu dengan menempa dirinya selain dengan ilmu-ilmu umum terapan yakni dengan mengasah sisi spiritual mereka tentunya bukan generasi biasa. Mereka bisa membawa The Holy Light ke meja-meja diskusi, kajian-kajian kontruktif, organisasi kemahasiswaan, aksi-aksi karang taruna, aksi parlemen jalanan yang penuh kearifan dan lain sebagainya. Mereka telah belajar banyak bagaimana menganalisis dan tentunya memberikan solusi perbaikan bangsa ini. Aksi-aksi mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah generasi yang siap memimpin. Tak pelak mereka harus kekurangan uang, kurang tidur, bahkan ancaman nyawa dalam memberikan sumbangsih peran bagi bangsa ini. Melalui kegiatan social kemasyarakatan, peduli pendidikan dini, sustainaibility community development, kajian dan penelitian ilmiah, aksi parlemen jalanan, kampanye kontruktif, rekontruksi seni budaya dan masih banyak lagi aksi konkrit yang mereka lakukan. Dengan itulah mereka ditempa dari aspek ruhani, jasmani, dan intelektual. Ketiga potensi yang ada dalam diri generasi muda ini diyakini merupakan sumber utama kekuatan dalam bergerak. Dan oleh karena itu, jika saja Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin maka dengan semangat mereka berkata “Sungguh kami akan membuat taman Indonesia ini dipenuhi bunga-bunga yang indah dengan keringat dan darah kami. Dan jika mereka (rakyat) tahu bahwa mereka lebih kami cintai dari pada kami sendiri, maka dengan seluruh jiwa ini kami persembahkan taman indah Indonesia untuk Tuhan dan Bangsa ini” Bahwa kita fesimis dengan generasi kaum muda saat ini, itu adalah sesuatu hal yang sangat wajar. Tapi jika kita tidak bisa optimis dengan adanya generasi muda lainnya yang telah ditempa dengan banyak kondisi krisis, maka bisa dipastikan negeri ini tidak akan beranjak dari rawa keterpurukan. Tentunya kita berharap semua generasi muda Indonesia bisa mengikuti jejak generasi emas tersebut. Sehingga semakin banyak lagi generasi muda yang akan bisa memimpin bangsa ini dengan arif. Saatnya Kaum Muda (Nasionalis-spiritualis) Memimpin Bangsa Ini.

Komentar»

1. andreas - September 8, 2008

Pemimpin seperti apa?

Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

salam hangat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: